<aside> 💡
Problem statement harus dengan jelas menguraikan perbedaan antara kondisi saat ini dengan tujuan yang ingin dicapai saat masalah telah diselesaikan. Dengan kata lain, kamu perlu menggambarkan kesenjangan antara kondisi ideal dengan kondisi yang saat ini terjadi.
</aside>
Dalam UX Design Process salah satu hal yang paling krusial ketika menciptakan solusi terletak pada bagaimana designer merumuskan Problem Statement. jika Problem Statement tidak jelas designer bisa salah memahami dengan tepat apa yang perlu diselesaikan atau dibuat dan ini bisa menimbulkan kebingungan dan kesalahpahaman yang dapat mengarah kepada solusi yang tidak sesuai.
Can You Imagine? betapa sensitifnya tahap ini.
Di artikel ini saya akan menjelaskan bagaimana cara menulis kalimat pernyataan masalah yang benar dan ideal namun sebelum kita pergi lebih jauh, terlebih dahulu Anda harus mengetahui beberapa hal dibawah ini.
Problem Statement atau Pernyataan Masalah merupakan deskripsi singkat yang mengartikulasikan inti masalah pelanggan yang perlu dipecahkan.
Problem Statement membantu kita berfokus kepada masalah yang sebenarnya yang perlu di eskplorasi yang perlu dipecahkan. pernyataan masalah menjelaskan scope dari permasalahan itu sendiri, menunjukan siapa yang terkena dampaknya atau siapa yang akan menjadi pengguna dari solusi yang dibuat.
Problem statement harus dirumuskan atau dinyatakan agar masalahnya nampak keluar sehingga designer dapat menangkap peluang. ini seperti ketika kita ingin membersihkan bathub atau bak mandi, kita perlu menguras airnya terlebih dahulu agar lumutnya nampak sehingga kita bisa membersihkan lumut tersebut.

Image on Google
Charles F. Kettering seorang insinyur, penemu, dan industrialis asal Amerika Serikat. terkenal karena kontribusinya dalam bidang teknologi dan industri, terutama di bidang otomotif dan elektronik, mengatakan hal seperti ini:
“A problem well-stated is a problem half-solved.”
Maksudnya apa? ketika designer merumuskan Problem Statement dengan baik maka sesungguhnya 50% masalah tersebut sudah terselesaikan! disisi lain, jika Problem Statement tidak dirumuskan dengan baik maka kemungkinan 0% (tidak lebih dari satu persen) masalah tersebut tidak akan terselesaikan dengan baik.
Pernyataan masalah yang ditulis atau dinyatakan dengan baik dapat digunakan untuk mendapatkan dukungan dari para stakeholder tentang why masalah ini penting untuk di selesaikan. seringkali saya di tanya oleh manager dan tim saya “apa yang sebenarnya menjadi masalah?” dan jika saya tidak yakin dalam memberi jawaban maka kemungkinan kecil mereka akan tertarik untuk sama — sama memperjuangkannya.
Dalam proses merumuskan Problem Statement kita perlu memahami bahwa ia dibuat untuk membantu designer, tim dan stakeholder agar dapat memahami “kedudukan masalah” tapi berdasarkan pengalaman saya selama 4 tahun terakhir tidak sedikit designer membuat sebaliknya.
Seperti apa Problem Statement yang salah itu:
Mari kita coba lihat berbagai contoh problem statement yang sudah saya kumpulkan dibawah ini:
Press enter or click to view image in full size

Kalimat pernyataan masalah diatas jelas mengandung solusi.
Press enter or click to view image in full size

Selain sorot masalah yang terlalu teknis bahasa yang digunakanpun cukup teknis sehingga tidak memperlihatkan keresahan sisi user experience. bisa dibilang kalimat ini terlalu narrow, jika kalimat terlalu narrow maka area of explorations akan solution menjadi terlalu sempit.
Press enter or click to view image in full size

Kalimat diatas tidak mengindikasikan siapa yang mengalami masalah. pada kasus pertama “…inconvinient due to lack of clarity” pertanyannya: siapa yang tidak nyaman? pelanggan? pelanggan baru atau pelanggan lama? umur berapa?. pada kasus kedua “…penanganan keluhan pelanggan”. pertanyannya: siapa yang melakukan penanganan keluhan? customer service kah? tim support kah? atau management?.
Press enter or click to view image in full size

Kalimat pernyataan masalah diatas jelas terlalu luas pada kasus pertama, “Mahasiswa sering menghadapi kesulitan…” pertanyannya, mahasiswa yang mana nih? negara mana?, kota mana?, daerah mana?, universitas mana?, jurusan mana?. lalu pada kasus yang kedua “kesulitan menemukan pengemudi..” pertanyaannya, di area mana dulu? saat di hari apa? saat di jam berapa?.
Saya sangat memahami tantangan yang Anda alami, kadang kita udah tahu, otak udah kebayang bentuk dan konteks permasalahannya tapi sulit untuk mengartikulasikan dan menuliskannya kedalam sebuah kalimat, right? saya juga sering pakai chatGPT untuk merekonstruksi kalimat wkwkwk. It’s hard to get problem statements right on the first try but that’s okay because it’s supposed to be an ITERATIVE process.
Jika Anda pernah mengalami masalah pada poin pertama dimana statement yang Anda tulis lebih condong mensuggest solution dan bukan suggest problem maka gunakan teknik ini, ini teknik yang saya kembangkan sendiri namanya teknik “Reverse Problem-Solution” yang artinya “Pembalikan antara masalah dan solusi”.
Coba bayangkan sebuah spektrum dimana Problem-Solution berada pada kedua ujung dari spektrum penemuan masalah dan solusi suatu proses desain. Problem ada disebelah kiri dan Solution ada di sebelah kanan.
Press enter or click to view image in full size

Image by Vhendy Vendira
Ketika pikiran kita lebih ke trigger untuk menyarankan solusi dibanding masalah, kita bisa melakukan “Reverse” dengan cara berpikir bertolak belakang dari apa yang kita pikirkan sebelumnya dari solusi ke problem dengan melempar pertanyaan ke diri sendiri: kenapa saya butuh solusi ini, Apa masalah sebenarnya yang ingin saya selesaikan?. mirip seperti teknik 5W 1H dalam mencari akar masalah
Jika teori Charles F. Kettering benar maka seharusya dengan kita berpikir “Reverse” akan membawah kita kepada inti masalah akan kebutuhan solusi tersebut dan bisa jadi ketika pikiran kita pergi ke ujung spektrum satunya, kita akan menemukan bahwa solusi tersebut bukanlah satu satunya solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut.
Ada banyak format dalam menulis Problem Statement diluar sana, saking banyaknya kita bingung harus pakai yang mana dan harus ikuti yang mana, sebenarnya Anda bisa pakai format apapun selama format tersebut tidak mengandung ke 4 poin diatas.
Di beberapa kesempatan saya harus mengikuti format tertentu pada kurikulum dan materi ketika mengajar di bootcamp namun dari berbagai referensi saya lebih suka menggunakan format yang dipakai oleh IBM yang saya kembangkan sendiri. 😍
Press enter or click to view image in full size

“Our users struggle to achieve some task today because blockers, limitations, etc.”
Contoh penerapan:
Contoh yang tepat:
“MANAGING ENGINEERS STRUGGLE TO TROUBLESHOOT DEFECTIVE PRODUCTS BECAUSE THEY HAVE LIMITED VISIBILITY AND CONTEXT AROUND THE FAILINGS OF SPECIFIC MACHINES ON THE PRODUCTION LINE”
Problem Statement yang dibuat harus dapat menyoroti kesenjangan antara posisi kita saat ini (kondisi saat ini) dan posisi yang kita inginkan di masa mendatang (kondisi mendatang). Kesenjangan atau gap itulah yang menjadi inti dari masalah.
Pada saat Anda merumuskan statement dengan formula diatas pastikan dijaga agar kalimat statementnya tidak terlalu panjang sesuai dengan ciri dari Problem Statement itu sendiri yaitu “deskripsi singkat. pernyataan masalah tersebut harus di fokuskan pada satu masalah yang dapat menyebabkan masalah lebih lanjut, dalam penentuannya dapat menggunakan prioritization. Ingat! tujuan dari menulis Problem Statement agar designer berfokus pada satu masalah yang tepat, sehingga ia tidak menangani terlalu banyak masalah.
Dan untuk bagian Action, Anda dapat menggunakan beberapa kata dibawah ini seperti: struggle, difficulties, trouble, dealing with obstacle, confronting issues, finding it hard, experiencing setbacks, facing challenges, grappling with barriers, managing adversity. Anda dapat menggunakannya sesuai dengan kebutuhan.
Referensi
Daftar Isi